Bagi dokter yang akrab disapa Kevin, kesehatan mental bukan sekadar tentang mengatasi gejala atau menyelesaikan masalah yang tampak di permukaan. Namun termasuk perjalanan untuk memahami diri, menemukan makna, dan membangun kembali harapan di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Hal ini membuatnya menempuh pendidikan Spesialis Kedokteran Jiwa di Universitas Indonesia dan menyelesaikannya pada tahun 2024. Dia tertarik pada kompleksitas cara manusia berpikir, merasakan, dan berelasi dengan dunia di sekitarnya, dan memberi perhatian khusus individu neurodivergen, termasuk mereka yang hidup dengan ADHD dan autisme.
Dalam praktiknya, dr. Kevin memadukan berbagai metode terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan psikoterapi psikodinamik, serta terus mendalami play therapy dan art therapy, ia membantu pasien menemukan cara yang paling sesuai untuk memahami diri, mengolah pengalaman hidup, dan bertumbuh menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Pengalamannya sebagai psikiater di RS Persahabatan, salah satu rumah sakit rujukan nasional turut membentuk cara pandangnya terhadap proses penyembuhan. Ia juga mendampingi pasien dengan berbagai penyakit kronis, termasuk tuberkulosis dan HIV, yang sering kali harus menghadapi beban psikologis di samping tantangan fisik yang mereka alami. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa harapan, dukungan, dan kesehatan mental sering kali menjadi bagian penting yang membantu seseorang bertahan dan melangkah dalam perjalanan pengobatan yang panjang.
Keyakinan bahwa pikiran dan tubuh saling terhubung juga mendorong dr. Kevin untuk memperdalam praktik mindfulness dan menjadi seorang certified yoga teacher. Baginya, kesehatan yang utuh lahir ketika seseorang mampu hadir sepenuhnya dalam kehidupannya, mengenali apa yang sedang dirasakan, dan merespons tantangan dengan kesadaran yang lebih baik. Karena itu, unsur mindfulness kerap menjadi bagian dari pendekatan yang ia gunakan dalam mendampingi pasien.
Dokter Kevin percaya bahwa hubungan yang hangat dan penuh penerimaan adalah fondasi penting dalam proses pemulihan. Ia berkomitmen untuk menghadirkan ruang yang aman, inklusif, dan bebas stigma, tempat setiap orang dapat datang dengan segala cerita, luka, harapan, dan pertanyaannya tanpa takut dihakimi. Baginya, pemulihan bukanlah tentang menjadi seseorang yang berbeda, melainkan tentang menemukan kembali diri yang mungkin sempat hilang di tengah berbagai tantangan hidup. Setiap langkah kecil menuju pemahaman diri, penerimaan, dan pertumbuhan adalah bagian dari perjalanan yang berharga—dan ia merasa terhormat dapat berjalan bersama para pasien dalam proses tersebut.